Akbid Uniska Kendal Go Internasional

64go

 

Bersama pengawas yayasn DR Slamet Utomo (no 3 dai kiri) bersama ketua Yayasan Ir Johar Tantowi MM (no 4 dari kiri) dan Direktur Akbid, Hj Masruroh,SST, MKes (no 8 dari kiri) berfoto bersama Dubes Indonesia dan Atase pendidikan.

 

“GO INTERNASIONAL” seolah merupakan harga mati atau setidaknya menjadi sebuah mimpi indah yang harus dicapai pada era globalisasi, seperti sekarang ini. Bila terlambat sedikit saja mempersiapkan diri maka, kita akan tertinggal oleh lajunya roda perputaran jaman. Kita selamanya bakal menjadi bangsa kedua atau mungkin yang kesekian kalinya, justru di negeri leluhurnya sendiri yang gemah ripah loh jinawi.

Menyadari betapa pentingnya makna go internasional, Akbid Uniska pun tidak mau sampai ketinggalan kereta. Akademi Kebidanan dibawah Dirut Hj Masruroh SST, MKes, begitu antusias saat mendengar kabar Asosiasi Perguruan Tinggi Kesehatan swasta se jateng, bakal meninjau Sembilan universitas serta rumah sakit besar yang ada di Philipina, sebagai upaya awal menjajaki kerjasama. Tanpa banyak berfikir lagi, ketua Yayasan Ir Johar Tantowi, MM yang didampingi Pengawas DR Slamet Utomo, bersama dengan 54 orang perwakilan dari 27 institusi, pada tanggal 31 Maret sampai 7 April silam, berangkat ke Philipina.

Menurut johar, dipilihnya Philipina sebagai tujuan kunjungan kerja oleh Asosiasi Perguruan Tinggi Kesehatan Swasta se jateng, atas pertimbangan karena Negara Philipina dikenal maju dalam pendidikan kesehatan maupun pengelolaan rumah sakitnya. Kerja sama ini, memang tidak terlepas berkat dukungan penuh dari Atase Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di Dubes Manila. Kunjungan kerja tersebut, kemudian ditindak lanjuti dengan penandatanganan MoU missal di Manila, antar perguruan tinggu yang diwakili oleh dirut PT masing-masing.

Menurut dirut Hj Masruroh SST, MKes, Akbid Uniska menandatangani kerja sama dengan dua Universitas yaitu IVAGO State University Manila serta OUR Leady Fatima University. Dipilihnya dua universitas ini, atas pertimbangan adanya jurusan Kebidanan untuk program S2. MoU tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan LOA dan MOA, yang secara rinci menyiapkan program jangka pendek. MoU berlaku selama lima tahun sejak ditanda tangani kedua belah pihak.

Program itu meliputi kegiatan seminar internasional di Bali pada Agustus 2013. Kemudian aka nada work shop Kebidanan yang diikuti oleh 16 institusi kebidanan, di Manila. Tujuannya, menyamakan kurikulum antar kedua Negara, khususnya dari Jawa Tengah dengan perguruan tinggi yang telah menandatangani MoU, agar lulusan dari Indonesia dapat langsung go internasional. Direncanakan pada bulan Oktober mendatang dimulai kerja sama tukar mahasiswa. Untuk meningkatkan skill, proses lab, manajemen dan lain sebagainya, pada Maret 2014, digelar training bagi dosen di Universitas Philipina. Terakhir kalinya, juga akan dijalin tukar menukar jurnal ilmiah, papar Masruroh. Muara akhir dari semua kerja sama tersebut adalah untukmeningkatkan kualitas perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah, agar mampu bersaing dengan Negara lain.

Dirut Akbid Uniska meupun ketua Yayasan, sepakat bahwa untuk merintis jalan menuju kesana yakin go internasional yang diawali melalui kerja sama dengan sejumlah universitas di Philipina, harus dilindasi  dengan kesadaran serta keinginan kuat untuk melangkah maju kedepan, disertai dengan persiapan matang, dan sungguh-sunggh dalam menggapai asa mulia itu. Tidak mungkin program ini bias jalan, bila tidak disiapkan sejak dini.

Menyadari betapa pentingnya program ini, Akbid Uniska tancap gas, dengan menyiapkan dosen serta mahasiswanya seaik mungkin, termasuk dalam kemampuan menguasai Bahasa Inggris. Bila perlu setiap hari diadakan tambahan Bahasa Inggris. Jangan sampai memalukan. Bila program ini berjalan lancer maka tidak lama lagi lulusan Akbid Uniska bias langsung go internasional. Jadi lulusan Akbid Uniska nantinya bukan Cuma untuk memenuhi kebutuhan tenaga kebidanan dalam negeri saja melainkan sudah siap bersaing dengan Negara maju lainya, lanjut dirut yang dibenarkan oleh Ketua Yayasan.